Serambi Pengasuh

Kamis, 30 April 2020 - 14:18:33 WIB

Kepemimpinan di Pesantren

Diposting oleh : Administrator

Kategori: Serambi Pengasuh - Dibaca: 324 kali

Kepemimpinan di Pesantren

Kepemimpinan (leadership) adalah kegiatan manusia dalam kehidupan. Secara etimologi, kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “pimpin” yang jika mendapat awalan “me” menjadi “Memimpin” yang berarti menuntun, menunjukkan jalan dan membimbing. Perkataan lain yang sama pengertiannya adalah mengetuai, mengepalai, memandu dan melatih dalam arti mendidik dan mengajari supaya dapat mengerjakan sendiri. Adapun pemimpin berarti orang yang memimpin atau mengetuai atau mengepalai. Sedang kepemimpinan menunjukkan pada semua perihal dalam memimpin, termasuk kegiatannya

Kepemimpinan adalah masalah relasi dan pengaruh antara pemimpin dan yang dipimpin. Kepemimpinan tersebut muncul dan berkembang sebagai hasil dari interaksi otomatis di antara pemimpin dan individu-individu yang dipimpin (ada relasi inter-personal). Kepemimpinan ini bisa berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak, mempengaruhi dan menggerakkan orang lain guna melakukan sesuatu demi pencapaian satu tujuan tertentu. Dengan demikian, pemimpin tersebut ada apabila terdapat satu kelompok atau satu organisasi.

  Para ahli ilmu social merumuskan beberapa macam gaya kepemimpinan  berdasarkan kepribadian  :

  1. Gaya Kepemimpinan Kharismatis
  2. Gaya Kepemimpinan Diplomatis
  3. Gaya Kepemimpinan Otoriter
  4. Gaya Kepemimpinan Moralis

  Di dunia pesantren gaya kepemimpinan karismatik menjadi gaya yang paling dominan dianut para pengasuh pesantren, pola kerja dalam struktur organisasi pesantren pada umumnya masih merupakan garis lurus ke atas, artinya setiap unit kerja bergantung pada atasan langsung, dimana peran kyai sangat menonjol.  Sosok sang kyai  sering kali menempati atau bahkan ditempatkan sebagai pemimpin tunggal yang mempunyai kelebihan (maziyah) yang tidak dimiliki oleh masyarakat pada umumnya,

            Gaya kepemimpinan  kharismatik di pesantren terdapat kelebihan dan kekurangannya. Disadari atau tidak, gaya kepemimpinan kharismatik ini memang diperlukan pada tahap awal perkembangan pesantren.  Pasalnya kepemimpinan kharismatik paternalistik cenderung menunjukkan bobot rasa tanggung jawab kyai yang cukup besar perhatian secara pribadi terhadap para pengikutnya. Dengan demikian, kyai dapat memberikan pelindung sebaik-baiknya demi terjaganya persatuan dan kesatuan kelompok masyarakat yang dipimpinnya.
           Kelemahannya  justru muncul pada saat gaya kepemimpinan ini terus diadopsi secara berkelanjutan, Kelemahan-kelemahan tersebut adalah tidak adanya kepastian tentang perkembangan pesantren disebabkan segala sesuatunya bergantung pada keputusan pimpinan, adanya keraguan dan bahkan ketidakberanian tenaga-tenaga kreatif yang ikut membantu jalannya pendidikan untuk ikut berperan aktif dalam menyumbangkan kreatifitasnya, tidak adanya perencanaan yang sistematis dalam proses pergantian kepemimpinan (pada umumnya pergantian kepemimpinan disebabkan oleh faktor alami, seperti kematian), dan tidak adanya peningkatan kualitas kepemimpiana seiring meningkatnya pengaruh sang kyai dari tingkat lokal sampai regional, dan atau bahkan nasional, meskipun demikian, bukan berarti gaya kepemimpinan kharismatik harus dihilangkan, mengingat kelebihan yang ditimbulkannya juga cukup dominan. Dalam konteks ini, diktum al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al- ashlah patut untuk dikedepankan.

Dalam bahasa kaum santri saat ini  , saya kira  konsep kepemimpinan ideal pengurus  pesantren adalah tipe Sang penggembala yang minimal mempunyai tiga  jenis pelayanan ,  Pertama, sikap ihlas.             perhatian seorang penggembala terhadap gembalaan didasari atas sikap ikhlas, yakni sepi ing pamrih (tanpa pamrih). Segenap perhatian penggembala ditujukan demi kemaslahatan gembalaannya sebagaimana kaidah politik kaum santri yang seirng dikutip oleh Gus Dur, “Tasharrufu-l-imami ala-r-ra’iyyati manuthun bi-l-mashlahah” (kebijakan dan perhatian seorang pemimpin senantiasa diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan kemaslahatan rakyatnya).” Jadi orientasi mendahulukan kemaslahatan santri dan pesantren dimotivasi dari motif keikhlasan ini.

Kedua, penggembala mengumpulkan, mengarahkan, dan menuntun gembalaan. Artinya, pemimpin harus membuat rukun rakyat dan bisa menyelesaikan ketegangan di antara mereka. Kalau rakyat tercerai-berai atau berpencar-pencar, sang pemimpin harus segera menyatukan mereka. Seperti penggembala yang mengumpulkan hewan gembalaan yang tercerai-berai dalam hitungan suara pluit atau sejenis.

Ketiga, penggembala menjamin keselamatan gembalaan. Ia harus memperhatikan satu per satu gembalaan, apakah tidak ada yang tertinggal di belakang, tidak ada yang kehausan, atau ada yang sakit. Ia harus menjamin tidak ada bahaya yang mengintai gembalaan dan segenap kebutuhan gembalaan tercukupi. Dan itu harus dilakukan secara terus-menerus, tiada henti. Kalau perlu 24 jam.

Kini dunia pesantren harus mulai membangun dirinya secara “kualitas”, pola manajemen pondok pesantren tradisional perlu tambahan sentuhan professional dalam mengelolanya, supaya dalam proses pembelajaran bisa progresif maju berkembang sehingga pondok pesantren mampu mengahsilkan out put yang siap menghadapi tantangan zaman        

 Sebagai wadah pembentukan kader-kader ulama dan pengembangan keilmuan Islam. ada tiga hal yang perlu dikuatkan dalam pengembangan pesantren. Pertama, tamaddun yaitu memajukan pesantren. Banyak pesantren yang dikelola secara sederhana. Manajemen dan administrasinya masih bersifat kekeluargaan dan semuanya ditangani oleh kyainya. Dalam hal ini, pesantren perlu berbenah diri.

Kedua, tsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam agar kreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinalitas ajaran Islam. Salah satu contoh para santri masih setia dengan tradisi kepesantrenannya. Tetapi, mereka juga harus akrab dengan komputer dan berbagai ilmu pengetahuan serta sains modern lainnya.

Ketiga, hadharah, yaitu membangun budaya. Dalam hal ini, bagaimana budaya kita dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Di sini, pesantren diharap mampu mengembangkan dan mempengaruhi tradisi yang bersemangat Islam di tengah hembusan dan pengaruh dahsyat globalisasi yang berupaya menyeragamkan budaya melalui produk-produk teknologi

Sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan, pengembangan pesantren harus terus didorong. Karena pengembangan pesantren tidak terlepas dari adanya kendala yang harus dihadapinya. Apalagi belakangan ini, dunia secara dinamis telah menunjukkan perkembangan dan perubahan secara cepat, yang tentunya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap dunia pesantren.

Terdapat beberapa hal yang tengah dihadapi pesantren dalam melakukan pengembangannya, yaitu:

Pertama, image pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang tradisional, tidak modern, informal, dan bahkan teropinikan sebagai lembaga yang melahirkan terorisme, telah mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk meninggalkan dunia pesantren. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab sesegera mungkin oleh dunia pesantren dewasa ini.

Kedua, sarana dan prasarana penunjang yang terlihat masih kurang memadai. Bukan saja dari segi infrastruktur bangunan yang harus segera di benahi, melainkan terdapat pula yang masih kekurangan ruangan pondok (asrama) sebagai tempat menetapnya santri. Selama ini, kehidupan pondok pesantren yang penuh kesederhanaan dan kebersahajaannya tampak masih memerlukan tingkat penyadaran dalam melaksanakan pola hidup yang bersih dan sehat yang didorong oleh penataan dan penyediaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai.

Ketiga, sumber daya manusia. Sekalipun sumber daya manusia dalam bidang keagamaan tidak dapat diragukan lagi, tetapi dalam rangka meningkatkan eksistensi dan peranan pondok pesantren dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, diperlukan perhatian yang serius. Penyediaan dan peningkatan sumber daya manusia dalam bidang manajemen kelembagaan, serta bidang- bidang yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, mesti menjadi pertimbangan pesantren.

Keempat, aksesibilitas dan networking. Peningkatan akses dan networking merupakan salah satu kebutuhan untuk pengembangan pesantren. Penguasaan akses dan networking dunia pesantren masih terlihat lemah, terutama sekali pesantren-pesantren yang berada di daerah pelosok dan kecil. Ketimpangan antar pesantren besar dan pesantren kecil begitu terlihat dengan jelas.

Kelima, manajemen kelembagaan. Manajemen merupakan unsur penting dalam pengelolaan pesantren. Pada saat ini masih terlihat bahwa pondok pesantren dikelola secara tradisional apalagi dalam urusan penguasaan informasi dan teknologi yang masih belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dalam proses pendokumentasian (data base) santri dan alumni pondok pesantren yang masih kurang terstruktur.

Keenam, pembenahan administrasi. Memang tidak mudah untuk membenahi sistem administrasi pesantren. Sebab, rata-rata masih dikelola secara tradisional. Jangankan buku induk, rapot, struktur kepengurusan pondok, madrasah, dan lain-lain, stempel saja kadang tidak ada. Begitu pula tidak mudah merubah keikhlasan mental santri dan alumni untuk peduli terhadap hal-hal yang sepele -tapi penting-  yang berkaitan dengan administrasi. Seperti soal keistiqamahan dalam menulis ejaan nama, baik di akte kelahiran, ijazah, KTP, SIM, dan sebagainya. Mungkin sudah zamannya, masyarakat yang kental pesantren sekalipun tidak ingin anaknya hanya berhasil dalam pendidikan pesantren dari sisi amaliyahnya saja, namun juga membutuhkan hitam putih legal formalnya.

Ketujuh, kemandirian ekonomi kelembagaan. Kebutuhan keuangan selalu menjadi kendala dalam melakukan aktivitas pesantren, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pengembangan pesantren maupun dalam proses aktivitas keseharian pesantren. Tidak sedikit proses pembangunan pesantren berjalan dalam waktu lama yang hanya menunggu sumbangan atau donasi dari pihak luar, bahkan harus melakukan penggalangan dana di pinggir jalan.

kedelapan, kurikulum yang berorientasi life skills santri dan masyarakat. Pesantren masih berkonsentrasi pada peningkatan wawasan dan pengalaman keagamaan santri dan masyarakat. Apabila melihat tantangan kedepan yang semakin berat, peningkatan kapasitas santri dan masyarakat tidak hanya cukup dalam bidang keagamaan semata, tetapi harus ditunjang oleh kemampuan yang bersifat keahlian.

 

Penulis :
Dr. KH. A. Fahrur Rozi, S.Ag., M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur
Ketua IGGI
Ketua Yayasan Al Qolam



Administrator 30 April 2020 Dibaca: 324 kali

Komentar (0)

Belum ada komentar

Isi Komentar :

(Masukkan 6 kode diatas)

Sekilas Info

  • Perjalanan Ke Detroit, Michigan

  • 3 Amalan yang Pahalanya Tidak Akan Putus Meski Telah Meninggal Yaitu Sedekah Jariyah, Abak Yang Shal

  • Ro'an hari jumat

  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.

  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.

Statistik User

012457


Pengunjung hari ini : 25

Total pengunjung : 12457

Hits hari ini : 78

Total Hits : 77527

Pengunjung Online : 1


Polling

Jam belajar pondok enaknya jam berapa?

06.00

09.00

14.00

17.00



Lazis An-Nur

Annur 1 Lazis An-Nur

Jl. Diponegoro IV / 6 Bululawang, Malang (65171)

Jawa Timur

081805178173 - 081336094512 - 085749544141

lazizannur@gmail.com

Rekening Donasi

BRI Syariah, No. Rek: 1045031583, a/n : LAZIS ANNUR

Bank BNI, No. Rek: 0814061436, a/n : LAZIS AN NUR

Ponpes An-Nur 1

Annur 1 Pondok Pesantren An-Nur 1

Jl. Diponegoro IV / 6

Bululawang, Malang (65171)

Jawa Timur

(0341) 805610 - 833105

085733156999 - 085749544141 - 0818766807

annursatu@gmail.com




Follow

Annur 1 Pondok Pesantren An-Nur 1

Lazis Annur Lazis An-Nur