Serambi Pengasuh

Kamis, 07 Mei 2020 - 09:35:27 WIB

Mempertahankan Semangat Kebangsaan

Diposting oleh : Administrator

Kategori: Serambi Pengasuh - Dibaca: 309 kali

Mempertahankan Semangat Kebangsaan

     Kita dilahirkan dan dibesarkan di negara Indonesia yang merupakan bangsa yang majemuk, memiliki keberagaman suku bangsa, ras, bahasa, agama, dan adat-istiadat, maupun lapisan sosial yang ada dalam masyarakat. Heterogenitas dalam masyarakat memberikan warna tersendiri dalam seluruh aspek kehidupan bernegara. Sebagai masyarakat majemuk, bangsa Indonesia harus mampu menghadapi realitas sosial dan masalah-masalah sosial lain yang sangat kompleks. Dalam upaya membentuk dan menjaga keberagaman dalam keserasian itu diperlukan berbagai upaya yang dapat membina sikap-sikap positif yang saling menghormati, menghargai, mengakui eksistensi, dan kerja sama di antara berbagai keanekaragaman dalam semangat kebangsaan .

Semangat kebangsaan merupakan salah satu aspek penting yang harus ditumbuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , untuk mempererat persatuan dan kesatuan dalam mewujudkan keamanan dan kedaulatan bangsa yang kokoh sebagai syarat utama untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia   .

Diantara sikap semangat kebangsaan adalah menyadari bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada zaman dahulu dilakukan bersama oleh berbagai suku, etnis dan agama yang ada di Indonesia. Perjuangan pahlawan di masa lalu sebagai bentuk dari sikap semangat kebangsaan harus mampu dirasakan oleh generasi sekarang dalam mengisi kemerdekaan, karena dengan menyadari perjuangan pendahulunya yang rela gugur di medan perang, maka masyarakat tidak akan menyia-nyiakan kemerdekaan yang dirasakan sekarang.

Kita mengetahui bahwa kemerdekaan dan terbentuknya negara Indonesia dipengaruhi banyak oleh eksistensi dan pergerakan ummat islam. Konsepsi Jihad kabangsaan melawan penjajah oleh pejuang muslim di masa lalu, memberikan gambaran utuh bahwa islam hadir sebagai pembentuk nasionalisme, atau lebih tepatnya cikal-bakal semangat kebangsaan. Karena dalam Islam sendiri, khususnya warga NU telah ditanamkan semangat mencintai tanah air merupakan bagian dari iman.

 

Pancasila Dan Kearifan NU

Pasca merdeka, kearifan masyarakat Indonesia dirangkum dalam sebuah wadah ideologis, berkat konsensus para the founding fathers, maka lahirlah Pancasila. Selain sebagai ideologis, juga sebagai falsafah dan pandangan hidup kebangsaan. Falsafah inilah selanjutnya menjadi landasan bergerak dalam berbangsa dan bernegara.

Menurut keputusan muktamar NU tahun 1984 bentuk negara NKRI sudah final, butir-butir sila Pancasila menggambarkan bahwa bangsa ini memiliki semangat dan cita-cita besar bagi peradaban dunia yang berketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan, dan keadilan. Lima butir sila ini, secara berurutan, selaras dengan konsepsi keislaman yang mengajarkan: fondasi tauhid, konsepsi akhlak dan keberadaban, prinsip persaudaraan dan persatuan, prinsip musyawarah, dan cita-cita keadilan dan kemakmuran. Dalam sejarahnya, islam memiliki peran strategis dalam membangun semangat perjuangan menghadapi kolonialisme sekaligus sebagai faktor pemersatu bangsa.

Tugas Para Muballigh NU

Saat ini, perdebatan antara Islam dan nasionalisme di Indonesia kembali digulirkan oleh kelompok-kelompok fundamentalis dari sisi kanan, di sisi berlawanan juga dilakukan oleh kelompok sekularis. Seolah islam dan semangat kebangsaan adalah sesuatu yang debatabel dan irrelevan. Padahal para pendiri bangsa ini, seperti Moh. Natsir menekankan bahwa keadaan sekulerisme tidak mampu memberi pegangan hidup dan keseimbangan hidup, baik bagi orang perseorangan ataupun bagi suatu bangsa.

Maka menjadi tugas mubaligh NU saat ini untuk merekonstruksi spirit kebangsaan dengan menjadikan islam sebagai penyokong aturan kehidupan bernegara dengan memberi penjelasan utuh melalui pendidikan kultural bahwa segala gerak kehidupan kebangsaan kita telah berasaskan tradisi nilai-nilai keislaman dan harus selalu dipertahankan.

Diperlukan pembinaan sikap-sikap positif terhadap seluruh warga negara indonesia agar masyarakat memiliki pemahaman dan kesadaran sosial budaya dan kesadaran nasional yang mengandung arti upaya agar masyarakat Indonesia seluruhnya memiliki keuletan dan ketangguhan untuk bersama mempertahankan intregritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan untuk mencapai tujuan nasional dan sekaligus kemuliaan ummat islam .

Para muballigh hendaknya mau menggali dalil cinta tanah air dari sumber Alquran , hadist dan kaidah Fiqih yang menjelaskan tentang pentingnya membangun semangat cinta tanah air , Diantara ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)
            Para mufassir dalam menafsirkan kata "معاد" terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata "معاد" dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.
            Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan bahwa dalam dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah). Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”[2].
            Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur'an surat An-Nisa’

دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن

Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka..." (QS. An-Nisa': 66).
            Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan bahwa  dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.[3]
            Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan bahwa
di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.[4]
            Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.
Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
            Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas  bahwa ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.[5]

Adapun dari hadist Nabi bisa diambil beberapa riwayat yang menjelaskan kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap kota Makkah dan Madinah , diantaranya :

 
عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قدم من سفر فنظر إلى جدرات المدينة أوضع راحلته ، وإن كان على دابة حركها من حبها

Dari Anas, bahwasannya Nabi SAW jika pulang dari bepergian beliau melihat ke arah tembok-tembok gedung di Madinah lalu mempercepat jalannya. Jika beliau berada di atas kendaraan (seperti kuda atau onta), beliau akan mengguncang-guncangkan tali kekang kendaraannya (agar cepat sampai) karena kecintaannya kepada Madinah. (HR. Bukhari).
            Ketika Nabi SAW hendak berhijrah ke Madinah karena tindakan repressive kaum musyrikin dan kafir Quraisy, Nabi SAW bersabda, “Betapa indahnya engkau wahai Makkah, betapa cintanya aku kepadamu. Jika bukan karena aku dikeluarkan oleh kaumku darimu, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya, dan aku tidak akan meninggali negara selainmu.” Hal ini menggambarkan betapa kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada tanah kelahirannya yakni kota Makkah.

            Dr. Ahmad Abdul Ghani Muhammad al-Najuli dalam al-Muwathanah fi al-Islam Wajabatun Wa Huquq menerjemahkan tanah air secara lebih luas, bahwa di era globalisasi ini sesungguhnya tanah air itu adalah alam semesta secara keseluruhan. Ini diistilahkannya sebagai al-muwathanah al-alamiyyah (tanah air alam semesta). Setiap muslim dilarang merusak alam semesta (wala tufsidu fil ardhi ba’da ishlahiha: jangan merusak bumi setelah perbaikannya). Mafhum mukhalafah-nya (pemahaman terbaliknya) adalah bahwa setiap muslim harus mencintai dan melestarikan alam semesta. Atas dasar qiyas awlawi, maka setiap muslim seharusnya lebih mencintai tanah air tempatnya dilahirkan, dibesarkan, dan dia hidup. Gampangnya begini: kepada alam semesta saja muslim wajib mencintainya, apalagi kepada tanah air tempatnya dia lahir dan tumbuh.

            Dalam  Kajian  fiqh islam hampir semua pembahasan berpusat kepada maqashid syariah yang dikenal dengan lima pokok ; kulliyatil khoms , atau ”maqosid khomsah” , yaitu : hifdzu ad Din, hifdzu an Nafs, hifdzu al ‘uqul, hifdzu al Amwal, dan hifdzu al Ansab. Jika dikumpulkan menjadi satu, maka seluruh maqashid ini terkumpul dalam kaidah jalb al-mashalih (menaik kebaikan-kebaikan) dan daf’u al-mafasid(menolak kerusakan-kerusakan) sebuah term yang mustahil hidup di luar tanah-air yang aman, damai, dan sejahtera.

Penutup

Disinilah peran para muballigh dalam mendidik kader NU calon pemimpin bangsa ke depan sangat diperlukan untuk  membangun prototype negarawan yang islami juga nasionalis, yang mampu menjadi pemersatu bangsa Indonesia . Dengan begitu, Islam dan semangat kebangsaan akan menjadi budaya masyarakat sekaligus model bagi kepemimpinan nasional di masa yang akan datang


Penulis :
Dr. KH. A. Fahrur Rozi, S.Ag., M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur
Ketua IGGI
Ketua Yayasan Al Qolam

* Makalah ini disampaikan dalam kegiatan LDNU PCNU Kutai Timur. Pemateri adalah Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang Jawa Timur.  

* (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)

* (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)

* (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, Hal 342)

* (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)



Administrator 07 Mei 2020 Dibaca: 309 kali

Komentar (0)

Belum ada komentar

Isi Komentar :

(Masukkan 6 kode diatas)

Sekilas Info

  • Perjalanan Ke Detroit, Michigan

  • 3 Amalan yang Pahalanya Tidak Akan Putus Meski Telah Meninggal Yaitu Sedekah Jariyah, Abak Yang Shal

  • Ro'an hari jumat

  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.

  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.

Statistik User

012457


Pengunjung hari ini : 25

Total pengunjung : 12457

Hits hari ini : 71

Total Hits : 77520

Pengunjung Online : 1


Polling

Jam belajar pondok enaknya jam berapa?

06.00

09.00

14.00

17.00



Lazis An-Nur

Annur 1 Lazis An-Nur

Jl. Diponegoro IV / 6 Bululawang, Malang (65171)

Jawa Timur

081805178173 - 081336094512 - 085749544141

lazizannur@gmail.com

Rekening Donasi

BRI Syariah, No. Rek: 1045031583, a/n : LAZIS ANNUR

Bank BNI, No. Rek: 0814061436, a/n : LAZIS AN NUR

Ponpes An-Nur 1

Annur 1 Pondok Pesantren An-Nur 1

Jl. Diponegoro IV / 6

Bululawang, Malang (65171)

Jawa Timur

(0341) 805610 - 833105

085733156999 - 085749544141 - 0818766807

annursatu@gmail.com




Follow

Annur 1 Pondok Pesantren An-Nur 1

Lazis Annur Lazis An-Nur